Gorontalo telah menjadi salah satu destinasi paling fenomenal di Indonesia berkat kehadiran raksasa laut yang ramah, dan melalui program Wildlife Gorontalo, wisatawan berkesempatan melihat mereka dari dekat. Desa Botubarani menjadi titik utama di mana Hiu Paus (Whale Shark) sering muncul hanya beberapa meter dari bibir pantai. Fenomena ini unik karena biasanya hewan migratoris ini ditemukan jauh di tengah laut, namun di sini mereka mendekat karena adanya interaksi dengan nelayan setempat. Kehadiran mereka membawa dampak ekonomi yang luar biasa bagi pariwisata daerah, menjadikannya salah satu atraksi satwa liar paling populer di Sulawesi.
Namun, kedekatan ini menuntut tanggung jawab besar, sehingga memahami panduan berenang bareng Hiu Paus adalah hal yang wajib dilakukan setiap pengunjung. Hiu paus adalah hewan yang sangat sensitif meskipun ukurannya sangat besar. Aturan utama yang harus dipatuhi adalah dilarang keras menyentuh atau memukul bagian tubuh hiu paus karena dapat menyebabkan stres dan infeksi pada kulit mereka. Selain itu, wisatawan diwajibkan menjaga jarak aman minimal 2 hingga 3 meter. Penggunaan tabir surya (sunscreen) kimia yang tidak ramah lingkungan juga sangat dilarang saat masuk ke air karena residu kimianya dapat mencemari habitat dan kesehatan satwa tersebut.
Interaksi yang dilakukan secara etis juga mencakup larangan penggunaan lampu kilat (flash) saat memotret. Cahaya yang tiba-tiba dapat mengejutkan hiu paus dan mengganggu penglihatan mereka. Wisatawan juga diminta untuk tidak melakukan gerakan yang tiba-tiba atau menghalangi jalur renang sang raksasa. Pengelola wisata di Botubarani kini semakin ketat dalam memberikan edukasi sebelum tamu menaiki perahu. Hal ini penting untuk memastikan bahwa keberadaan industri pariwisata tidak mengusir atau menyakiti satwa yang menjadi ikon daerah tersebut. Keberlanjutan wisata hiu paus ini sepenuhnya bergantung pada kepatuhan manusia terhadap kode etik yang telah ditetapkan.
Dalam kerangka Wildlife Gorontalo, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap kesehatan hiu paus yang datang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah pola pemberian makan oleh nelayan berdampak pada siklus migrasi alami mereka. Oleh karena itu, jumlah perahu dan orang yang berada di air dalam satu waktu sangat dibatasi untuk mengurangi polusi suara dan kepadatan yang bisa membuat satwa merasa terancam. Wisatawan diajak untuk menjadi penonton yang pasif dan menghargai ruang hidup makhluk agung ini. Dengan pendekatan yang berbasis konservasi, Gorontalo membuktikan bahwa pariwisata dan perlindungan satwa liar dapat berjalan beriringan.
